Jumat, 5-9 Agustus 2026
Seputar Jabar | Pagelaran Harmoni Wastra Nusantara yang berlangsung di Graha Manggala Siliwangi, Bandung, 5-9 Agustus 2026, tidak hanya menampilkan kekayaan batik, tenun, bordir dan fashion, tetapi juga menghadirkan pertunjukan seni tradisional angklung.
Salah satunya ditampilkan oleh Angklung Merah Putih yang dipimpin oleh Yatno Trihardanisalah satu tokoh penggerak angklung se-Jawa Barat, mengikutsertakan sejumlah komunitas angklung dari berbagai wilayah di Jawa Barat. Kegiatan tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus upaya bersama dalam melestarikan budaya Sunda dan kesenian angklung.
Pembina/Ketua Angklung Merah Putih, Yatno Trihardani, mengatakan pihaknya mengumpulkan sekitar lima komunitas untuk tampil dalam kegiatan tersebut.
“Siang hari ini kita bisa berkumpul bersama untuk mengisi acara Harmoni Wastra Jawa Barat. Kami dari MPC Merah Putih mengumpulkan beberapa grup untuk bermain angklung. Ada dari Bojongsoang, Baleendah, Mawar 13, Ciwastra dan Sukajadi,” ujar Yatno.
Menurutnya, setiap komunitas terdiri dari sekitar 25 orang. Mereka mempersiapkan penampilan selama kurang lebih satu bulan, termasuk berlatih dan mempersiapkan lagu yang akan dimainkan.
Yatno menilai kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi sarana membangun kebahagiaan, kesehatan, persaudaraan dan semangat gotong royong.
“Pada intinya ini sebagai upaya sehat dan silaturahmi. Saya merasa bangga karena mereka mendapatkan edukasi yang mudah diterima. Kalau diberikan yang terlalu sulit, malah bisa kabur. Ternyata ketika edukasinya mudah dicerna, hasilnya maksimal dan pesannya sampai,” katanya.
Berdiri Sejak 2014, Telah Membina Ribuan Murid
Yatno menjelaskan, Angklung Merah Putih telah berdiri sejak 2014. Selama perjalanannya, komunitas tersebut telah membina sekitar 2.500 murid, termasuk anak-anak sekolah.
Namun, hingga saat ini kegiatan pembinaan tersebut disebutnya masih berjalan secara mandiri dan belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.
“Selama ini sama sekali belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Jadi ini benar-benar kebersamaan dan kegotongroyongan. Kalau ada acara apa pun, kami bersilaturahmi. Dari mereka, untuk mereka,” ungkapnya.
Ia berharap semangat tersebut dapat terus dijaga sehingga pelestarian angklung tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kegiatan rutin dan keterlibatan masyarakat.
Menurut Yatno, salah satu kunci agar generasi muda tertarik mempelajari angklung adalah memberikan metode pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami.
“Budaya itu kita lestarikan, tetapi bagaimana cara memasaknya, bagaimana cara meramunya supaya mudah dicerna. Itu yang penting,” tuturnya.

Lebih jauh, Yatno menegaskan bahwa keberadaan Angklung Merah Putih memiliki tujuan yang lebih luas. Tidak hanya menjaga kesenian angklung sebagai bagian dari budaya Indonesia, tetapi juga membawa nama Indonesia melalui seni ke berbagai daerah bahkan ke mancanegara.
“Tujuannya melalui angklung, Angklung Merah Putih, adalah untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia. Bukan hanya dalam budaya dan kesenian, tetapi juga agar angklung Merah Putih dikenal di seluruh pelosok Indonesia dan negara-negara lainnya,” pungkas Yatno.
Kehadiran Angklung Merah Putih dalam Harmoni Wastra Nusantara sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan berbagai bentuk ekspresi seni. Wastra, musik tradisional, komunitas dan kreativitas masyarakat dipertemukan dalam satu ruang untuk memperkuat kecintaan terhadap budaya Nusantara.















